Jakarta, CNBC Indonesia – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di dalam negeri tengah dalam kondisi antara hidup atau mati. Sebagai efek pukulan beruntun yang menghantam.

Terbaru, pelemahan rupiah dan pergerakan harga minyak dunia efek memanasnya tensi di Timur Tengah. Serta sikap dovish bank sentral AS, the Fed.

Catatan Tim Riset CNBC Indonesia melansir Refinitiv (Selasa, 23/4/2024), rupiah mengalami depresiasi terhadap dolar AS beberapa waktu terakhir.

Sejak 14 Maret hingga 19 April 2024, rupiah terus mengalami depresiasi dari Rp15.575 per dolar AS menjadi Rp16.250 per dolar AS.

Bahkan dalam intra-day, rupiah sempat menyentuh titik terlemahnya di angka Rp16.285 per dolar AS pada 19 April 2024. Ini menjadi level yang terlemah sejak April 2020 atau sekitar empat tahun terakhir.

“Konflik Israel dengan Iran tak terlalu berdampak langsung ke Indonesia. Hanya imbasnya tidak langsung ke nilai tukar dan harga minyak,” kata Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta kepada CNBC Indonesia, dikutip Rabu (24/4/2024).

Hal ini lah yang kemudian menambah kepusingan bagi industri TPT di Tanah Air. Ketika harga minyak bakal melambung sebagai efek konflik Israel dengan Iran.

“Kalau saat ini yang berpengaruh di nilai tukar karena pembayaran sebagian bahan baku impor kita kan pakai USD. Meski industri hulunya masih bisa jual pake USD ke lokal, ini akan menjadi beban di hilirnya,” ujar Redma.

“Kalau berkelanjutan, minyak lebih mengkhawatirkan karena dampaknya langsung ke bahan baku,” imbuh dia.

Padahal kondisi pabrik TPT di dalam negeri tengah megap-megap.

“Dengan utilisasi yang sudah di bawah 50%, kita harus tetap jalan atau pilihannya matikan mesin,” cetusnya.

“Kalau saat ini belum terasa karena kita pakai harga kontrak. Kalau berkelanjutan kontrak bulan depan sudah akan pakai harga baru,” sebut Redma.

Ini berarti, gelombang PHK masih mengintai industri TPT nasional.

Redma pernah memproyeksikan, setidaknya sudah ada 1 juta orang pekerja yang jadi korban PHK di industri TPT nasional. Penyebabnya, utilisasi yang terus tertekan bahkan sampai ke bawah 50%.

Kondisi ini dilaporkan masih berlanjut hingga saat ini. Redma mengatakan, tren PHK di pabrik TPT dan terkait, seperti industri alas kaki yang notabene juga menggunakan tekstil, masih berlangsung. Apalagi, ekonomi AS belum menunjukkan perbaikan signifikan.

Gelombang PHK di pabrik TPT nasional dilaporkan terus berlanjut sejak tahun 2022 lalu. Penyebabnya, mulai dari serbuan produk impor yang menggerus pasar domestik, efek domino Pandemi Covid-19, anjloknya ekspor akibat pelemahan ekonomi negara-negara tujuan utama ekspor, dampak perang Rusia-Ukraina, dan di saat bersamaan ada lonjakan biaya-biaya menyebabkan pabrik tak lagi efisien.

Stok di pabrik-pabrik TPT orientasi ekspor di dalam negeri dilaporkan sempat menumpuk sehingga produksi harus dipangkas atau dihentikan sementara.

Kondisi ini menyebabkan gelombang PHK tak terelakkan. Dalam beberapa kasus, satu per satu pabrik TPT di dalam negeri menyerah lalu tutup. Ribuan orang pekerja jadi korban.

Seperti yang dialami 4 perusahaan di Purwakarta, Jawa Barat. Keempat perusahaan ini dilaporkan telah tutup, meski kini masih ada aktivitas administrasi. Namun, operasional produksi telah dihentikan dan pekerja yang diputus pun disebut telah mendapatkan hak-haknya sebagai korban PHK.

Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) mencatat, dalam periode tahun 2020 hingga awal tahun 2023, ada 14 pabrik padat karya yang tutup., sebagian diantaranya adalah pabrik TPT.

Salah satu penyebabnya adalah serbuan produk impor. API Jawa Barat pernah mencatat, sehari ada 3 juta lembar baju impor menghantam pasar domestik.

Setali tiga uang.

Kondisi ini pun diungkapkan oleh Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Benny Soetrisno menambahkan, saat ini industri TPT nasional pun tengah menghadapi serbuan barang impor asal China. Selain membanjiri pasar domestik, harga barang China ini pun terlalu murah.

Di sisi lain, trade remedies atas barang-barang itu tak bisa dilakukan. Trade remedies adalah instrumen yang diperbolehkan WTO untuk negara anggotanya dalam menghadapi perdagangan internasional yang tidak berimbang. Instrumen itu berupa anti-dumping dan anti-subsidi, atau perdagangan yang berimbang (safeguards).

“Sedangkan pasar ekspor ada penurunan karena kenaikan biaya angkut/ logistik. Sehingga, harga di konsumen meningkat mengakibatkan penurunan volume beli dari negara importir,” kata Benny.

“Oleh karena itu semua, maka akhir industri TPT akan menyesuaikan volume produksi dengan melakukan down size kapasitasnya,” kata Benny.

Dampak akhirnya mudah ditebak, PHK.

“Konsekuensinya adalah ada pemangkasan jumlah tenaga kerja,” kata Benny.

Sementara itu, industri di dalam negeri kini tengah dibuat was-was lagi, oleh efek pelemahan rupiah dan pergerakan harga minyak dunia.

Menurut Benny, dalam skenario risiko industri TPT nasional, level psikologis kurs dolar AS yang masih bisa ditanggung adalah Rp17.000.

Wait and See

Terpisah, Wakil Ketua Umum API Anne Patricia Sutanto mengatakan, pelemahan rupiah memiliki dampak berbeda bagi sektor TPT di dalam negeri.

“Kalau posisinya eksportir masih ok. Kalau posisinya domestik dan pembelian bahan bakunya dalam USD, memang akan memengaruhi harga jual. Dan kenaikan harganya apakah bisa di-absorb market tanpa memengaruhi demand market?,” katanya.

Dia pun membenarkan, dampak pelemahan rupiah bagi pembelian bahan baku oleh industri TPT berorientasi eksportir bisa terkompensasi dengan harga ekspor yang naik efek kurs dolar AS.

Di sisi lain, Anne tak menampik jika saat ini industri TPT berorientasi ekspor pun menghadapi tantangan. Namun bukan dari kurs rupiah terhadap dolar AS.

“Terancamnya bukan karena exchange rate, tapi lebih karena global market demand,” ujarnya.

“Semua industri mesti dinamis menghadapi realitas demand lokal dan internasional. Saat ini kita masih wait and see dampak konkret dari geopolitics tension,” pungkas Anne

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


PHK Jelang Lebaran Nyata, Ini Datanya


(dce/dce)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *